JAKARTA | Bahribantenreborn.net — Ketua Umum Persatuan Nasional Pemuda Indonesia (PNPI), Syamsul Rizal, menegaskan konsolidasi Pemuda PNPI periode 2026–2028 harus menjadi momentum strategis untuk memperkuat persatuan, kapasitas kader, sekaligus memperbesar kontribusi nyata generasi muda terhadap pembangunan nasional.
Di tengah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, menurut Syamsul, pemuda tidak boleh hanya ditempatkan sebagai objek pembangunan. Generasi muda harus tampil sebagai pelaku utama, penggerak perubahan, pencipta lapangan kerja, inovator, sekaligus mitra kritis dan konstruktif pemerintah dalam mendorong kemajuan serta kesejahteraan masyarakat.
“Pemuda jangan hanya berbicara tentang pembangunan, tetapi harus masuk dan menjadi bagian dari pembangunan itu sendiri. Kita harus kritis ketika ada yang perlu diperbaiki, mendukung kebijakan yang memberikan manfaat bagi rakyat, sekaligus menghadirkan gagasan dan solusi,” tegas Syamsul Rizal.
DARI SEMANGAT SUMPAH PEMUDA MENUJU GERAKAN PEMBANGUNAN
Syamsul menilai perjalanan sejarah bangsa telah membuktikan bahwa pemuda selalu berada di garis penting perubahan. Semangat Sumpah Pemuda 1928, perjuangan kemerdekaan 1945 hingga berbagai momentum perubahan nasional menjadi bukti bahwa kekuatan pemuda mampu menjadi energi pemersatu bangsa.
Namun, tantangan generasi muda saat ini jauh berbeda. Digitalisasi, kecerdasan buatan, transformasi ekonomi, perubahan dunia kerja dan persaingan global bergerak sangat cepat.
Pada saat yang sama, persoalan kesempatan kerja, kualitas pendidikan, kesenjangan ekonomi serta ketimpangan pembangunan masih menjadi pekerjaan besar.
Karena itu, Persatuan Nasional Pemuda Indonesia (PNPI) dituntut tidak berhenti pada aktivitas internal organisasi. PNPI harus mampu menjadi jembatan antara aspirasi pemuda, kebutuhan masyarakat dan arah kebijakan pembangunan nasional.
KONSOLIDASI BUKAN SEKADAR STRUKTUR, TAPI GAGASAN DAN GERAKAN
Syamsul menegaskan konsolidasi PNPI 2026–2028 tidak boleh dimaknai sebatas penataan struktur organisasi atau pergantian kepengurusan.
Lebih jauh, konsolidasi harus diarahkan menjadi konsolidasi gagasan, sumber daya, jaringan dan karya nyata.
Potensi pemuda dari berbagai daerah dan latar belakang harus dihimpun dalam gerakan bersama yang produktif. Sejumlah sektor dinilai memiliki ruang besar bagi keterlibatan pemuda, mulai dari kewirausahaan, UMKM, ekonomi kreatif, teknologi, pendidikan, pertanian modern, ketahanan pangan, energi hingga pemberdayaan masyarakat desa.
“PNPI harus menjadi rumah besar kolaborasi. Perbedaan daerah, organisasi dan latar belakang jangan menjadi tembok pemisah. Justru keberagaman itu harus menjadi kekuatan untuk melahirkan kerja bersama,” ujarnya.
PEMUDA HARUS NAIK KELAS: DARI PENERIMA PROGRAM MENJADI PENCIPTA PELUANG
Dalam agenda pembangunan nasional, Syamsul mendorong agar pemuda memperoleh ruang yang lebih luas untuk berkembang sebagai kekuatan ekonomi produktif.
Generasi muda, katanya, tidak cukup hanya menjadi penerima program pemerintah. Mereka harus didorong menjadi wirausahawan, pencipta lapangan kerja, profesional, inovator dan penggerak ekonomi masyarakat.
Dengan demikian, pembangunan sumber daya manusia tidak berjalan sendiri, tetapi harus terhubung langsung dengan penguatan ekonomi, produktivitas dan kemandirian nasional.
KADERISASI: MENCETAK PEMIMPIN MUDA BERINTEGRITAS
Selain sektor ekonomi, PNPI juga akan menempatkan kaderisasi sebagai salah satu fondasi penting konsolidasi 2026–2028.
Organisasi kepemudaan harus mampu menjadi ruang pendidikan kepemimpinan yang melahirkan generasi berintegritas, memiliki nasionalisme, kompetensi, keberanian serta kepedulian terhadap persoalan masyarakat.
Syamsul juga menekankan pentingnya menjaga daya kritis pemuda terhadap kebijakan publik.
Namun, kritik tidak boleh berhenti pada kecaman. Sikap kritis harus dibangun berdasarkan data, argumentasi dan solusi agar benar-benar menjadi kekuatan kontrol sosial yang konstruktif.
MENUJU INDONESIA EMAS 2045
Syamsul berharap konsolidasi Persatuan Nasional Pemuda Indonesia (PNPI) periode 2026–2028 mampu menjadi titik awal penguatan gerakan pemuda yang lebih terarah dan produktif dalam menyongsong Indonesia Emas 2045.
“Pemuda bukan hanya pewaris masa depan Indonesia. Pemuda harus ikut membangun masa depan itu sejak hari ini. Konsolidasi PNPI 2026–2028 adalah konsolidasi persatuan, gagasan dan kerja nyata untuk Indonesia yang maju, mandiri, kuat dan berdaulat,” pungkas Syamsul Rizal.
Dengan semangat tersebut, Persatuan Nasional Pemuda Indonesia (PNPI) diharapkan tidak sekadar menjadi organisasi yang memiliki struktur, tetapi mampu membuktikan eksistensinya melalui karya, pemberdayaan dan kontribusi nyata bagi masyarakat serta pembangunan nasional.
Redaksi: Bahribantenreborn.net

